Minggu, 25 Desember 2016

Menanggapi

Pentas jaka tarub dan balada sumarah Di universitas PGRI Semarang Pentas Jaka tarub dan pentas Monolog yang di adakan di Universitas PGRI Semarang pada 4 Oktober 2016 yang bertempat di gedung pusat lantai 7, pentas drama tersebut di adakan oleh teater gema, pentas tersebut terbagi atas 2 sesion, session 1 pada pukul 15.00 WIB dan session 2 pada pukul 19.00 WIB. Pada session 1 pentas berjalan lancar, pentas di awali dengan drama tentang Jaka tarub, kisah ini berawal dari seorang laki-laki yang bermimpi akan kehilangan seorang anaknya, kisah berlanjut flashback, seorang laki-laki yang bermimpi itu ternyata Jaka tarub dan anaknya yang bernama Nawangsih. Jaka tarub takut kehilangan orang yang ia kasihi untuk kedua kalinya, karena ia sudah kehilangan istrinya seorang bidadari dari khayangan yang bernama Nawang wulan, Jaka tarub kehilangan Nawang wulan karena kesalahannya sendiri. Jaka tarub mencuri selendang milik Nawang wulan ketika Nawang wulan dan adik-adiknya sedang mandi di sungai, pada saat itu Nawang wulan terkejut karena hanya selendang milik Nawang wulan yang hilang, tetapi Nawang wulan tidak bisa berbuat apa-apa, ia di tinggal oleh adik-adiknya ke khayangan karena ia tidak mempunyai selendang untuk terbang, Nawang wulan hanya duduk di pinggir sungai dan ia berkata jika ada yang memberikan ia pakaian, jika itu perempuan akan di jadikan adik, dan jika itu laki-laki akan ia jadikan suami. Jaka tarub mendengar ucapan dari Nawang wulan, keduanya pun saling berbincang-bincang, Jaka tarub berkata bahwa jika ia ikut denganya ke rumahnya ia akan aman dan jika ada seorang tetangga yang menanyakan Nawang wulan, Jaka tarub berkata bahwa Nawang wulan berasal dari desa yang sangat jauh, dan akhirnya mereka menikah. Tak lama kemudian Nawang wulan mengandung dan melahirkan anak perempuan dari Jaka tarub, anak perempuan itu di beri nama Nawangsih, mereka hidup bahagia. Dalam cerita ini juga di tampilkan dua sosok yang memiliki badan berisi yang sedang berbincang-bincang membicarakan tentang pemilihan lurah, peran mereka yang lucu membuat para penonton terhibur dengan akting mereka. Kembali dengan cerita Jaka tarub dan Nawang wulan, konflik muncul ketika Jaka tarub di beri amanat oleh Nawang wulan menjaga nasi yang sedang di masak, karena Nawang wulan pergi ke sungai untuk mandi, tetapi tutup nasi itu tidak boleh di buka, karena jika di buka kesaktian dari Nawang wulan akan hilang, tetapi dengan rasa penasarannya Jaka tarub membuka tutup nasi itu, Nawang wulan pun marah karena Jaka tarub sudah mengingkari janjinya, kesaktian Nawang wulan hilang karena kesalahan dari Jaka tarub, Nawang wulan menjelaskan bahwa lumbung padi yang selama ini tidak pernah habis itu karena kesaktiannya, selama ia memasak hanya dua batang padi saja yang ia masak, Nawang wulan pun masuk ke dapur dan pada saat itu juga Nawang wulan menemukan selendangnya yang berada di antara padi-padi yang ada di lumbung, dan akhirnya Nawang wulan memutuskan untuk kembali ke khayangan. Jaka tarub memohon kepada Nawang wulan agar tidak kembali ke khayangan bukan untuk Jaka tarub tetapi untuk anaknya Nawangsih yang masih kecil dan masih membutuhkan Nawang wulan, dan Nawang wulan berkata bahwa ia akan sering mengunjungi anaknya tetapi ketika bulan purnama, akhirnya Nawang wulan pun kembali ke khayangan, Jaka tarub merasa menyesal karena sudah kehilangan orang yang ia kasihi. Begitulah awal cerita laki-laki yang bermimpi takut kehilangan anaknya yang ternyata laki-laki itu ialah Jaka tarub. Pentas kedua yaitu tentang balada Sumarah, cerita Balada Sumarah menceritakan seorang perempuan yang di kucilkan, di rendahkan dan di caci maki oleh orang-orang karena masalalu ayahnya seorang PKI, setiap hari ia selalu mendapat cemoohan dari tetangganya yang berada di desa, lalu ia merasa tidak tahan hidup dalam bayang-bayangan ayahnya, lalu ia memutuskan pindah merantau ke arab menjadi seorang TKW. Merasa ingin hidup tentram, nyaman di negeri orang, malah ia jauh lebih menderita di arab, pekerjaanya menjadi seorang budak dari orang arab, setiap hari mencuci, menyetrika tapi ia tak mendapatkan apa-apa. Merasa bekerja dengan baik tetapi ia tidak mendapat bayaran sepeserpun malah ia di siksa, dan di perlakukan semena-mena oleh majikannya, tak hanya berhenti di situ saja Sumarah juga di perlakukan tak baik, ia di perkosa oleh majikannya sendiri, ia di perkosa dengan keji oleh majikannya. Sumarah pun tak terima dengan kelakuan majikannya, ia merasa dendam dan ia memberanikan dirinya untuk memberikan pelajaran ke majikannya bahwa jangan semena-mena kepada orang kecil yang sedang merantau di negeri orang. Akhirnya ia membunuh majikannya, akibat dari ulahnya ia di hukum mati di negara asal ia bekerja. Pentas Jaka tarub dan Balada Sumarah sangat menarik untuk di tonton, dan banyak sekali nilai-nilai di dalamnya yang bisa kita ambil,misalnya pada cerita Jaka tarub hal yang bisa kita ambil yaitu jangan mengambil barang yang bukan milik kita sendiri, karena itu akan mencelakai atau merugikan bagi diri kita sendiri di kemudian hari, dan nilai dari Balada Sumarah yang bisa kita ambil adalah jangan menilai seseorang hanya dari masalalunya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar