annisapurwani N.A
Minggu, 25 Desember 2016
Menanggapi
Berkreasi dengan sastra
UPGRIS Bersastra, begitulah kiranya acara yang di laksanakan pada tanggal 19 Oktober 2016 bertempat di Balairung Universitas PGRI Semarang, acara tersebut mengusung judul 3 buku, 3 pembaca, 3 kritikus, dan 1 pengarang. Dalam UPGRIS di datangi oleh banyak tokoh penting, acara tersebut di adakan dengan sangat menarik dengan dekorasi yang baik. Acara UPGRIS bersastra di awali dengan penampilan dari biscuittime yang sangat bagus dan menarik perhatian penonton yang hadir di Balairung.
Bukan hanya biscuittime saja yang menampilkan nyanyian yang sangat di sukai oleh mahasiswa, tetapi banyak sekali tarian-tarian yang di tampilkan untuk menghibur penonton, bukan hanya tarian saja tetapi ada pembacaan puisi yang di bacakan secara bagus oleh mahasiswa dan seorang tokoh. Acara UPGRIS bersastra tidak berhenti cukup di situ saja kembali lagi biscuittime mengeluarkan lagu yang sangat di sukai oleh mahasiswa, bahkan menyanyikan lagu yang akan di lounchingkan keesokan harinya. Acara berlanjut dan di buka oleh ibu sri suciati, ibu sri suciati menantang mahasiswa, jika ada yang berani naik panggung dan menjawab pertanyaan, maka akan di berikan album dari biscuittime, lalu ada seorang mahasiswi yang naik panggung, pada saat itu juga icha vokalis dari biscuittime memberikan pertanyaan, apakah dia bisa menyanyikan sedikit lirik dari lagu biscuittime, dia pun bisa menyanyi dan di berikan nya album biscuittime untuknya.
Acara berlanjut ketika ibu sri suciati mempersilahkan rektor dan para tokoh untuk duduk di kursi paling depan khusus rektor dan para tokoh tersebut. Acara tersebut sangat meriah dan baik sekali untuk di tonton. Panggung yang di tata secara apik juga mempengaruhi berjalannya acara tersebut, sorot lampu juga di tata sedemikian rupa, agar bisa menarik penonton yang berada di balairung. Kembali pada acara inti UPGRIS bersastra, acara berlanjut ketika ibu sri suciati mempersilahkan pak rector dan para tokoh untuk naik ke panggung, tak ketinggalan juga ibu sri suciati memanggil bapak harjito sebagai host acara tersebut.
Acara semakin meriah ketika Rektor UPGRIS membacakan sebuah puisi, awalnya pak rektor merasa tidak yakin bisa membacakan puisi dengan baik, dan perkataan pak rektor yang lucu membuat mahasiswa dan penonton lainnya tertawa, tetapi sebelum ia membacakan puisi, beliau bernyanyi dengan kemampuannya memainkan gitar. Beginilah sekilas puisi yang di bacakan oleh Rektor UPGRIS setelah beliau bernyanyi, puisi tersebut berjudul taziah, sudah lama saya telanjang, sudah lama orang-orang menganggap dia telah mati,, hari ini pada minggu yang terik, saya pergi ke penjahit kesayangan, saya ingin perempuan berambut keriting itu membuatkan baju untuk di kenakan untuk melayat teman-teman, begitulah sedikit tentang puisi yang di bacakan oleh Rektor UPGRIS, yang awalnya beliau merasa ragu untuk membacakan puisi tersebut.
Tak hanya Rektor UPGRIS saja yang menampilkan membaca puisi, ibu sri suciati juga tak mau kalah untuk membacakan puisi juga, ibu sri suciati selaku wakil Rektor UPGRIS berpuisi dengan di iringi oleh mahasiswa nya yang bernyanyi, beginilah sekilas puisi yang di bacakan oleh beliau. Selir music panas.. saat menunggu mati, selir-selir tua menunggu mati, tanpa obat, tanpa tabib, selir-selir tua menunggu mati, tanpa bedak, tanpa jerik, selir-selir tua menunggu mati, sambil berjalan kea rah utara, berjalan kearah patung buda.. itulah sekiranya puisi yang di bacakan oleh Ibu Sri suciati selaku wakil UPGRIS.
Acara UPGRIS bersastra semakin meriah ketika Bapak Harjito naik ke atas panggung, beliau sedikit melawak agar mahasiswa dan pentonton lainnya tidak merasa bosan, beliau lalu bebicara,” dari segala apa yang terjadi dalam mimpinya, mereka tidak melakukan riset malas membaca, lebih suka bertengkar dengan para sastrawan untuk sesuatu yang sia-sia” beliau mencuplik dari kritikus Dharma, beliau mengukip cerpen semacamgangguan kecil pada tawa tuhan. Belia lalu mempersilahkan Bapak Nur Hidayat, beliau adalah dosen dari Universitas PGRI Semarang, yang menyelesaikan gelar doktor di Universitas Gajah Mada, bapak Harjito berkata selain bapak Nur Hidayat adalah pecinta sastra, beliau juga adalah pecinta jazz.
Selanjutnya beliau menyapa hadirin yang berada di Balairung Universitas PGRI Semarang, beliau menyampaikan bahwa beliau merasa terhormat, dan tersanjung di undang dalam acara bedah buku, beliau merasa terhormat karena beliau di izinkan oleh bapak Triyanto untuk membedah bukunya. Lalu beliau sedikit bercerita tentang pak triyanto, beliau bercerita ketika pada tahun 1980, ketika goenawan Muhammad menulis dalam catatan pinggirnya , beliau masih teringat karena tulisannya yang luar biasa, pak goenawan menggambarkan Gusdur itu sebagai pelintas batas, karena dari sisi pemikiran, dari sisi pergaulan, dari sisi minat, dan dari sisi semua aspek, begitulah kiranya goenawan menggambarkan Gusdur sebagai pelintas batas.
Kemudian beliau bercerita lain, beliau masih teringat sebuah tulisan, Muhammad soebari yang menulis cerita sebuah Gusdur juga, bapak soebari bercerita bahwa Gusdur, ketika pak Nurkholis majid itu pulang dari Amerika, dia mencoba untuk melihat kapasitas pak Nurkholis majid sebagai seorang intelektual islam yang pada saat itu tengan menanjak dari pemikiran nya yang sangat segar. Yang di ceritakan dari bapak Muhammad soebari adalah bahwa Gusdur mencoba pergi ke pak Nurkholis majid, dan yang coba ia langsung lihat adalah buku-bukunya, pada awal kunjungannya bahwa pak Nurkholis majid itu belum memiliki buku-buku sastra, kemudia pada periode berikutnya kemudian ia sudah memiliki buku-buku sastra yang di miliki oleh pak Nurkholis majid. Begitulah cerita dari pak Nur Hidayat.
Acara semakin menarik ketika para tokoh menyampaikan pendapatnya masing-masing tentang pak Triyanto, banyak sekali dukungan dari para tokoh untuk pak Triyanto, seperti agar beliau tidak berhenti cukup di situ saja menciptakan buku-buku yang menarik dan segar untuk di baca dan di edarkan. Acara selanjutnya di tutup oleh ibu Sri suciati selaku wakil Rektor UPGRIS. Selanjutnya di harapkan agar UPGRIS dapat membuat acara sastra lainnya yang bermanfaat.
Balasan Surat Dosen
Nama : Annisa Purwani N.A
NPM : 15410181
Kelas : 3D
Selamat siang, Pak Naka dosen kelas 3D dan bahkan dosen kelas lain, hanya saja di kelas saya bapak mengampu mata kuliah penulisan media massa. Bagaimana kabar Pak Naka dan keluarga? Semoga baik-baik saja ya, dan selalu dalam lindungan Allah. Amin. Kabar saya dan teman-teman sangat luar biasa pak, apalagi sekarang kami sudah menginjak semester 3, semester di mana banyak sekali tugas dari para dosen, dan banyak sekali rutinitas yang di lakukan. Meskipun surat ini datang mendadak tapi tidak apa-apa, hanya saja yang membuat saya terkejut mengapa bapak pergi meninggalkan kelas, karena biasanya bapak selalu datang ke kelas. Sebenarnya apa yang di katakan Pak Naka mengenai kemuliaan yang berhenti pada diri kalian yang cukup bisa terhitung dengan beberapa lipatan leher itu tidak sepenuhnya benar, sebenarnya kami mempunyai pendapat sendiri untuk menyampaikan di depan kelas, hanya saja butuh keberanian, dan keberanian itu hanya di miliki oleh beberapa anak saja, dan sebagian masih merasa malu-malu untuk menyampaikan apa yang di peroleh selama proses pembelajaran.
Mengenai tugas Bapak di Jakarta dari tanggal 18-20 Oktober, semoga di beri kelancaran, apalagi tugas wajib tersebut membawa nama universitas, meskipun bapak di Jakarta, tetapi harus ingat mahasiswa yang di Semarang ya Pak, kami di sini menunggu bapak agar bisa mengajar kelas kita lagi, dan tidak sabar mendengar cerita bapak selama di Jakarta, entah bapak di sana merasa senang atau malah sebaliknya, lalu bukan hanya mahasiswa bapak yang di tinggalkan, keluarga bapak juga, bahkan mereka merindukan bapak, selama bapak di Jakarta untuk menjalankan tugas dalam rangka musyawarah sastrawan di Badan usaha.
Tak apa jika bapak pergi meninggalkan kelas, kepergian bapak juga untuk menghadiri musyawarah sastrawan, yang pasti terkait dengan dunia literasi. Mengenai surat bapak yang menanyakan mengapa kami malas membaca? Malas berterus terang untuk bicara? Malas untuk mengutarakan, menyelatankan, atau bahkan membarat atau menimurkan gagasan atau ide yang sekecil apapun yang nyangkut barang sementara atau sesaat di benak kami?. Saya akan menjawab mengapa demikian, yang pertama mengapa kebanyakan dari kami itu malas untuk membaca dan malas berterus terang untuk berbicara? Sebenarnya itu tergantung dari diri kita masing-masing, ada yang malas ada yang giat untuk membaca dan berterus terang dalam berbicara, banyak sekali faktor yang membuat kita malas membaca dan berbicara di depan kelas di antarnya yaitu, bahwa jika membaca membuat pusing karena ketebalan buku yang di baca, terlalu banyak memegang gadget sehingga membuat kita malas untuk membaca karena terlalu asyik dengan gadget nya, banyaknya hiburan juga membuat kita malas membaca karena kita terlalu asyik dengan hiburan tersebut.
Memang benar apa yang di katakana oleh bapak, jika kita tidak banyak membaca buku, membaca Koran, dan membeli banyak buku yang bisa di jadikan referensi, kita tidak bisa memperoleh informasi dari hal-hal tersebut, memang benar sekarang kita bisa membaca buku dan membaca koran secara online, karena zaman sudah semakin canggih, apa-apa serba internet. Pernyataan bapak mengenai apa kami sudah punya masa depan yang sudah di prediksi kehadirannya, bisa di jadikan motivasi agar kita lebih giat dalam membaca.
Tentang perkataan bapak mengenai kita harus bisa memahami diri sendiri terlebih dahulu, memang benar perkataan dari bapak, jika kita harus bisa memahami apa yang ada pada diri kita, mengenai apa yang menjadi kekurangan dan menjadi kelebihan pada diri kita, lalu motivasi saya kuliah yaitu ingin menjadi mahasiswa yang baik, dan bisa memperoleh nilai yang baik agar bisa membanggakan kedua orang tua saya, dan mengenai cita-cita saya yaitu ingin menjadi guru yang baik yang bisa mengajar siswa-siswanya dan bisa menularkan ilmu saya kepada mereka.
Dari perkataan bapak mengenai mahasiswa yang sangat sibuk dan tidak bisa menyempatkan untuk membaca Koran dan membaca buku,memang benar perkataan bapak bisa di jadikan motivasi untuk kami, tentang bapak yang dulu dalam kuliah sibuk, tetapi masih bisa menyempatkan untuk membaca, dan bapak bisa berkarya. Semoga surat dari bapak bisa di jadikan pedoman untuk memotivasi diri saya dan teman-teman saya. Cukup sekian balasan surat dari saya Pak Naka.
Menanggapi
NAMA : ANNISA PURWANI N.A
NPM : 15410181
KELAS : 3D PBSI
Persoalan Ujian Nasional yang Begitu Pelik
dan Pendidik yang Berkualitas
Ujian Nasional adalah sistem evaluasi standar pendidikan dasar dan menengah secara nasional, dan adanya ujian nasional sebagai syarat untuk mencapai kelulusan, ujian nasioan di maksudkan untuk mengetahui hasil belajar siswa dan untuk memperoleh keterangan mengenai mutu pendidikan, tetapi ujian nasional akhir-akhir ini menjadi pembicaraan yang sangat hangat bagi sebagian orang bahkan para pemimpin negara. Opini yang di tulis oleh Rika irawati tentang “Butuh pendidik berkualitas” berkaitan dengan persoalan-persoalan mengenai ujian nasional, salah satunya yaitu penolakan dari presiden joko widodo.
Saya sependapat dengan opini yang di tulis oleh Rika irawati mengenai “Butuh pendidik berkualitas” di Koran tribun jateng edisi Rabu, 21 Desember 2016. Saya sependapat dengan opini tersebut karena di dalam opini tersebut berisi penolakan dari presiden Joko widodo mengenai usulan menteri pendidikan dan kebudayaan Muhadjir Effendy mengakhiri polemik motatorim ujian nasional. Presiden juga menyatakan ujian nasional yaitu sebagai ajang bagi siswa bertarung di dunia internasional.
Ujian nasional mungkin menjadi momok yang sangat menakutkan bagi kalangan pelajar yang akan menghadapi ujian, banyak pelajar yang ketakutan saat akan menghadapi ujian, hal tersebut banyak di tentang oleh pelajar dan menghendaki ujian nasional di tiadakan. Meski bukan lagi menjadi indikator utama kelulusan, ujian nasional tampaknya masih menjadi persoalan bagi proses belajar mengajar peserta didik di Indonesia.
Presiden telah memutuskan hal yang berkaitan dengan ujian nasional, bahwa ujian nasional tetap di adakan, di jalankan, dengan berbagai penyempurnaan perbaikan. Dan mengenai putusan yang di sampaikan oleh presiden, saya setuju dengan putusan beliau, karena kalau tidak adanya Ujian nasional, pelajar tidak akan merasa takut akan menghadapi ujian dan proses belajar akan semakin berkurang, walaupun pada kenyataannya masih banyak di luar sana pendidik yang tidak belajar, belajar hanya ketika menghadapi ujian saja.
Sejak wacana penghapusan ujian nasional yang di sampaikan oleh Muhadjir effendi membuat para pelajar merasa bingung, antara harus senang karena pelajar tidak perlu mati-matian untuk belajar agar mencapai nilai kelulusan dengan baik. Apakah ujian nasional satu-satunya indikator penentu kualitas sistem pendidikan ? tentu saja bukan, hal tersebut di buktikan di negara Finlandia sebagai negara pemilik system pendidikan di dunia, di negara tersebut tidak ada ujian, dan tak memberikan tugas atau pekerjaan rumah, tak seperti di indonesia, tetapi mengapa negara tersebut bisa berhasil, kuncinya adalah karena kualitas tenaga pendidiknya. Semua guru harus lulusan S2 dan dari program pendidikan.
Berbeda dengan di Indonesia guru yang melanjutkan S2 masih bisa di hitung dengan jari. Bahkan juga sebagian dari mereka yang menjadi pengajar bukan lulusan program pendidikan. Pada kenyataan kualitas guru yang baik sangat di perlukan untuk menghasilkan calon penerus bangsa yang cerdas dan baik. Guru yang berkualitas juga memberikan pengaruh yang besar bagi lulusan yang di hasilkan, jika ingin menghasilkan lulusan yang berkualitas, gurulah yang pertama harus punya kompetensi tersebut.
Masih banyak pendidikan di Indonesia yang harus di perbaiki, yaitu dari segi pendidiknya dan dari tenaga pendidiknya. Jangan mau kalah dengan negara yang lain, kita sebagai bangsa Indonesia bisa ikut bersaing dengan negara lain agar bisa seimbang dari segi pendidik maupun tenaga pendidiknya, agar kita mampu bersaing dengan negara lain, jangan hanya karena ujian nasional menjadi persoalan yang tak henti-hentinya di perbincangkan, sebagai contoh di negara Finlandia saja yang tak ada ujian saja bisa mencetak anak-anak yang cerdas, apalagi bangsa kita yang ada ujian nya, kita sebagai bangsa Indonesia pasti mampu bersaing dengan negara-negara lain.
Seperti halnya keputusan presiden jokowi tentang ujian nasional semata-mata untuk memperbaiki proses belajar pada peserta didik yang di rasa belum sesuai. Di adakan nya ujian nasional juga untuk mengukur seberapa jauh kemampuan para peserta didik, ujian nasional di adakan bukan untuk menakuti pendidik karena kerumitannya, seperti pada tahun-tahun sebelumnya ujian juga di laksanakan, tetapi bukan ujian nasional namanya melainkan yaitu EBTANAS, ujian penentu kelulusan pada tahun-tahun sebelumnya itu berbeda dengan ujian nasional yang sekarang, pada tahun terdahulu ujian di tentukan oleh pusat, berbeda dengan sekarang yang di tentukan oleh sekolah, hal itu mempermudah peserta didik.
Di samping itu, di dunia pendidikan kita sekarang ini muncul keanehan-keanehan. Ujian nasional di tingkat pertama dan tingkat menengah dalam pelaksanaannya masih ada yang tidak jujur, dengan melakukan kecurangan tersebut berarti telah menafikan nilai-nilai akademis dari sebuah kegiatan pendidikan. Hal tersebut tidak bernilai baik dan hal yang paling memalukan bagi dunia pendidikan.
menanggapi
SUKA CITA DIBULAN BAHASA
Bulan bahasa, seperti itulah kata yang pas untuk memperingati bulan bahasa yang setiap bulan oktober banyak sekali acara-acara yang di laksanakan, terutama bagi universitas PGRI Semarang yang rutin tiap bulan oktober mengadakan acara-acara yang berkaitan dengan bulan bahasa. Semarak bulan bahasa dalam rangka memperingati bulan bahasa Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni Universitas PGRI Semarang terselenggarakan dengan lancar.
Mahasiswa dan dosen pun turut ikut andil dalam pelaksanaan bulan bahasa tersebut. Acara bulan bahasa di awali dengan UPGRIS bersastra yaitu kegiatan membedah buku yang di usung dengan judul 3 buku, 3 pembaca, 3 kritikus, dan 1 pengarang, acara tersebut sangat meriah dengan di datangi oleh para tokoh, Rektor UPGRIS dan tentunya mahasiswa Universitas PGRI Semarang yang tentunya ikut meriahkan acara tersebut.
Kegiatan lomba berikutnya yang tentunya juga sangat meriah yaitu lomba lagu nusantara yang di adakan di Balairung Universitas PGRI Semarang, setelah di adakan lomba lagu nusantara yang tentunya sangat meriah, lomba berikutnya yaitu lomba pidato 3 bahasa, seperti bahasa inggris, bahasa indonesia, dan bahasa jawa, lomba pidato tersebut tidak di adakan bersamaan melainkan lomba pidato tersebut di adakan di tempat yang berbeda tetapi pada waktu yang bersamaan, seperti lomba bahasa jawa di adakan di GP01-03, lomba pidato bahasa inggris di ruang seminar GP2, dan yang tentunya tak kalah meriah lomba pidato bahasa indonesia yang di adakan di GP7 antar siswa SMA/SMK/MA Se Jawa Tengah. Sukses selalu untuk Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni Universitas PGRI Semarang.
Acara puncak peringatan bulan bahasa yaitu jatuh pada hari kamis tepatnya pada tanggal 27 Oktober 2016, puncak bulan bahasa bertempat di Balairung Universitas PGRI Semarang yang di adakan pada pukul 07.00 WIB Sampai dengan selesai, acara berlangsung sangat meriah dengan di hadiri Rektor Universitas PGRI Semarang, dosen-dosen Universitas PGRI Semarang, dan yang tak tertinggal yaitu Mahasiswa Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni Universitas PGRI Semarang. Seluruh mahasiswa mengenakan pakaian budaya indonesia yang tentunya sangat beraneka ragam, ada yang mengenakan kebaya, ada juga yang mengenakan pakaian sesuai dengan daerah nya masing-masing, semuanya ikut serta dalam pelaksanaan bulan bahasa.
Acara pertama di sambut oleh Rektor Universitas PGRI Semarang, pak rektor berpidato tentang acara bulan bahasa, hiburan yang pertama yaitu seorang yang bernyanyi dengan di iringi oleh piano, pak rektor juga tak mau kalah beliau bermain perkusi dengan menggunakan tong sampah yang di temani oleh seorang mahsiswa, ketika beliau bermain perkusi suasana balairung menjadi ramai karena penampilan dari rektor UPGRIS yang sangat menarik dan tentunya sangat sayang untuk di lewatkan.
Dalam festival budaya tersebut setiap kelas dari Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni ikut berpartisipasi dalam menampilkan pertunjukan-pertunjukan yang tentunya sangat menarik untuk di tonton. Pertunjukan-pertunjukan di atur sangat apik, dan tentunya agar penonton tidak kecewa dan merasa bosan dengan acara tersebut, sebelum di adakan puncak bulan bahasa, tentunya di adakan juga gladi bersih acara tersebut yang di adakan satu hari sebelum peringatan puncak bulan bahasa, agar keesokan harinya acara dapat terselenggara dengan lancar. Setting lampu juga di tata sedemikian rupa dan di tata dengan baik demi kelancaran puncak bulan bahasa.
Dalam festival puncak bulan bahasa banyak tarian-tarian yang di tampilkan oleh perwakilan setiap kelas, tarian-tarian yang di tampilkan antara lain tarian tradisional, tarian modern, dan tentunya tarian yang di modifikasi tradisional dan modern, pada saat tarian-tarian di tampilan suasana balairung yang penuh dengan penonton sangat meriah dan menambah semaraknya acara puncak bulan bahasa. Satu persatu tarian dari perwakilan kelas di tampilkan, dari tarian-tarian tersebut tidak ada yang tidak menarik, semuanya bagus dan sangat menarik. Tetapi dengan berlangsungnya acara tersebut, mahasiswa di himbau agar menjaga norma-norma atau tetap pada batasannya. Universitas PGRI Semarang juga merencanakan acara yang lebih menarik setiap bulan oktober untuk di selenggarakan setiap tahunnya.
Tak kalah menarik dengan peringatan bulan bahasa yang jatuh pada bulan oktober, peringatan yang lain yang jatuh pada bulan oktober yaitu sumpah pemuda, selamat hari sumpah pemuda ke-88 untuk seluruh pemuda indonesia, bagaimana peran kalian pemuda hingga saat ini. Kontribusi apa yang telah kamu lakukan? Di masa kemerdekaan indonesia, di orde baru menuju reformasi telah membuktikan dirimu pemuda yang penuh ambisi, dengan impian, kau memberikan perubahan, di mana keberadaanmu kawan, di 88 tahun sumpah pemuda, kita sebagai generasi yang baru tentunya harus bisa mengikuti jejak-jejak pemuda sebelumnya, bukan dengan berperang, karena kita hidup di jaman yang sudah merdeka, paling tidak kita bisa memanggakan bangsa indonesia dengan karya-karya kita, seperti halnya karya, acara yang di adakan di halaman GU Universitas PGRI Semarang tentunya sangat menarik, karena di situ kita dapat melihat mahasiswa berorasi, seperti halnya berorasi, mahasiswa banyak membacakan puisi-puisi tentang sumpah pemuda yang menarik dan sayang untuk di lewatkan, acara tak berhenti cukup di situ saja banyak sekali acara mengenai sumpah pemuda, acara puncak yaitu pada malam hari. Tetap gelorakan semangatmu satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa untuk Indonesia. Semoga generasi muda indonesia makin positif dan makin kreatif.
Menanggapi
Belajar tanggap dengan pementasan drama
Saya Annisa Purwani N.A, saya ingin menanggapi esai dari teman saya yang bernama Arwika Desy Windasari, tentang esai pementasan drama Jaka tarub dan monolog balada sumarah. Sebagaimana Arwika yang menulis esai tentang pementasan drama tersebut, saya juga menulis esai tentang pementasan drama yang sama yang di adakan di auditorium GP7 yang di laksanakan pada jam 15.00 WIB dan session ke dua yang di adakan pada jam 19.00 WIB.
Cerita yang di tulis oleh arwika yaitu tentang seorang pemuda yang gagah bernama Jaka Tarub, dia memiliki kesaktian, ia sering keluar masuk hutan untuk berburu maupun menimba ilmu. Sampai akhirnya ia menemukan sebuah danau yang sangat indah di tengah hutan, beserta tujuh orang wanita yang sangat cantik sedang mandi dan bercanda ria, kemudian ia menemukan selendang wanita-wanita tersebut yang tergeletak berserakan. Setelah memilih, ia mencuri salah satunya dan menyembunyikannya. Beberapa saat pun berlalu dan para bidadari sudah hendak kembali ke khayangan. Dari sepenggal cerita yang di ceritakan oleh teman saya, saya ingin memberikan masukan kepada teman saya mengenai cerita yang di sampaikan olehnya. Menurut saya sebaiknya bahasa yang di gunakan tidak terlalu ribet agar bacaan tersebut bisa di pahami oleh pembaca, dari sepenggal cerita tersebut juga hampir sama dengan cerita yang di tulis oleh saya, namun cara menyampaikannya saja yang berbeda.
Cerita tersebut berlanjut, Nawang wulan menangis mencari selendangnya yang hilang, Jaka tarub kemudian menampakan dirinya dengan membawa kain(bukan selendang nawang wulan) dan menghibur sang bidadari. Awalnya Nawang wulan takut karena mengira Jaka tarub adalah orang jahat, tetapi setelah Jaka tarub berhasil meyakinkan Nawang wulan, Nawang wulan pun mau berbicara dengan dirinya. Setelah beberapa bulan, jaka tarub ingin menikah dengan Nawang wulan. Pada suatu hari Jaka tarub mengutarakan maksudunya, mereka pun menikah dan di karuniai seorang anak bernama Nawangsih, mereka selalu bahagia dan merawat Nawangsih dengan sepenuh hati. Namun setelah beberapa lama hidup rumah tangga mereka terusik dengan rasa ingin tau.
Dari cerita yang saya dengar dan saya sampaikan melalui esai tentang jaka tarub, pesan yang di sampaikan saya dan teman saya memang berbeda, karena menurut pendapat masing-masing, dari cerita yang di sampaikan oleh teman saya, menurut saya kurang lengkap, karena di cerita tersebut tidak di terangkan Nawang wulan menangis dimana, dan tidak di terangkan juga bahwa bila ada yang memberikan ia baju, bila itu perempuan akan di jadikannya adik, dan bila itu laki-laki dia akan jadikan suami.
Cerita pun berlanjut ketika rahasia dari Nawang wulan terbongkar, yaitu ia memasak nasi selalu menggunakan satu butir beras itu ia dapat menghasilkan nasi yang banyak. Setelah mereka menikah Jaka tarub sangat penasaran, namun dia tidak bertanya langsung kepada Nawang wulan melainkan ia langsung membuka dan melihat panic yang suka di jadikan istrinya itu memasak nasi. Ia melihat setangkai padi masih tergolek di dalamnya, ia pun segera menutupnya kembali, akibat rasa penasaran Jaka tarub, Nawang wulan kehilangan kekuatannya, sejak saat itu Nawang wulan harus menumbuk dan menampi beras untuk di masak seperti wanita umumnya. Karena tumpukan padi itu berkurang lalu Nawang wulan menemukan selendang yang selama ini ia cari.
Nawang wulan pun sangat marah ketika suaminya yang mencuri selendangnya, akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke khayangan. Jaka tarub pun meminta maaf dan memohon kepada istrinya agar tidak pergi ke khayangan, namun tekad Nawang wulan sudah bulat, hingga akhirnya ia pergi juga ke khayangan. Namun ia tetap sesekali turun ke bumi untuk menyusui anaknya, namun dengan satu syarat Jaka tarub tidak boleh bersama Nawangsih ketika Nawang wulan menemuinya. Jaka tarub menahan kesedihannya dengan sangat. Ia ingin terlihat tegar, setelah Jaka tarub menyatakan kesanggupannya untuk tidak bertemu lagi dengan Nawangsih, sang bidadaripun terbang meninggalkan dirinya dan anaknya Nawangsih. Jaka tarub hanya sanggup menatap kepergian Nawang wulan sambil mendekap Nawangsih. Sungguh kesalahannya tidak termaafkan, tiada hal lain yang dapat di lakukannya saat ini selain merawat Nawangsih dengan baik.
Hal yang bisa saya tangkap dari cerita teman saya mengenai jaka tarub adalah seorang pemuda yang mencuri selendang seorang bidadari, sehingga bidadari tersebut tidak dapat kembali ke khayangan, dan akhirnya mereka menikah dan di karuniai seorang anak yang bernama Nawangsih, namun kebahagian tersebut hanya sementara, karena setelah Nwang wulan meemukan selendangnya ia pun kembali ke khayangan, dan orang yang menyesal akan kepergiannya yaitu Jaka tarub, karena kesalahannya sendiri ia kehilangan istirnya seorang bidadari yang cantik jelita.
Namun di cerita yang di sampaikan oleh teman saya kurang lengkap karena di cerita tersebut tidak di singgung dua orang yang badannya besar yang satu ingin menjadi seorang lurah, tetapi keberadaan dua orang tersebut hanya sebagai pelengkap saja dan sebagai sampingan agar penonton tidak merasa bosan. Dan di luar cerita tersebut tidak di jelaskan bagaimana suasana panggungnya, bagaimana pementasanya, bagaimana sorot lampunya, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan suasana luar panggung dari pementasan drama tersebut.
Saya juga ingin menanggapi mengenai drama monolog tentang balada sumarah. Dari cerita teman saya tentang balada sumarah tidak di jelaskan secara rinci mengenai bagaimana kejadian cerita tersebut, bagaimana alur ceritanya, bagaimana akhir dari ceritanya, teman saya hanya menjelaskan tentang narasinya saja, tidak menjelaskan dengan cara menyampaikan pendapatnya sendiri mengenai cerita tersebut.
Cerita balada sumarah yaitu menceritakan seorang perempuan yang selalu di kucilkan, di cemoohkan karena masalalu ayahnya, ia merasa tidak tahan hidup di negara sendiri, lalu ia pergi merantau ke negeri orang menjadi seorang TKW. Ingin hidup dengan bahagia, tetapi malah siksaan yang ia dapat. Ia tidak mendapat bayaran sepeserpun, tak hanya berhenti di situ saja, sumarah di perlakukan tidak sepantasnya oleh majikannya sendiri, ia di perkosa dengan keji oleh majikannya sendiri. Merasa tak terima dengan perlakuaan majikannya, ia membunuh majikannya sendiri, akibat dari ulahnya yang membunuh majikannya ia di hukum mati di negara asal ia bekerja.
Sebaiknya cerita di sampaikan dengan jelas agar pembaca bisa mengerti, tidak hanya di jelaskan saja narasinya, tetapi di jelaskan dan di sampaikan menurut pendapat masing-masing. Cerita balada sumarah sangat menarik dan mencuri perhatian para penonton dan banyak sekali nilai-nilai yang bisa kita petik dari cerita jaka tarub dan balada sumarah.
Menanggapi
Pentas jaka tarub dan balada sumarah
Di universitas PGRI Semarang
Pentas Jaka tarub dan pentas Monolog yang di adakan di Universitas PGRI Semarang pada 4 Oktober 2016 yang bertempat di gedung pusat lantai 7, pentas drama tersebut di adakan oleh teater gema, pentas tersebut terbagi atas 2 sesion, session 1 pada pukul 15.00 WIB dan session 2 pada pukul 19.00 WIB. Pada session 1 pentas berjalan lancar, pentas di awali dengan drama tentang Jaka tarub, kisah ini berawal dari seorang laki-laki yang bermimpi akan kehilangan seorang anaknya, kisah berlanjut flashback, seorang laki-laki yang bermimpi itu ternyata Jaka tarub dan anaknya yang bernama Nawangsih.
Jaka tarub takut kehilangan orang yang ia kasihi untuk kedua kalinya, karena ia sudah kehilangan istrinya seorang bidadari dari khayangan yang bernama Nawang wulan, Jaka tarub kehilangan Nawang wulan karena kesalahannya sendiri. Jaka tarub mencuri selendang milik Nawang wulan ketika Nawang wulan dan adik-adiknya sedang mandi di sungai, pada saat itu Nawang wulan terkejut karena hanya selendang milik Nawang wulan yang hilang, tetapi Nawang wulan tidak bisa berbuat apa-apa, ia di tinggal oleh adik-adiknya ke khayangan karena ia tidak mempunyai selendang untuk terbang, Nawang wulan hanya duduk di pinggir sungai dan ia berkata jika ada yang memberikan ia pakaian, jika itu perempuan akan di jadikan adik, dan jika itu laki-laki akan ia jadikan suami.
Jaka tarub mendengar ucapan dari Nawang wulan, keduanya pun saling berbincang-bincang, Jaka tarub berkata bahwa jika ia ikut denganya ke rumahnya ia akan aman dan jika ada seorang tetangga yang menanyakan Nawang wulan, Jaka tarub berkata bahwa Nawang wulan berasal dari desa yang sangat jauh, dan akhirnya mereka menikah. Tak lama kemudian Nawang wulan mengandung dan melahirkan anak perempuan dari Jaka tarub, anak perempuan itu di beri nama Nawangsih, mereka hidup bahagia. Dalam cerita ini juga di tampilkan dua sosok yang memiliki badan berisi yang sedang berbincang-bincang membicarakan tentang pemilihan lurah, peran mereka yang lucu membuat para penonton terhibur dengan akting mereka.
Kembali dengan cerita Jaka tarub dan Nawang wulan, konflik muncul ketika Jaka tarub di beri amanat oleh Nawang wulan menjaga nasi yang sedang di masak, karena Nawang wulan pergi ke sungai untuk mandi, tetapi tutup nasi itu tidak boleh di buka, karena jika di buka kesaktian dari Nawang wulan akan hilang, tetapi dengan rasa penasarannya Jaka tarub membuka tutup nasi itu, Nawang wulan pun marah karena Jaka tarub sudah mengingkari janjinya, kesaktian Nawang wulan hilang karena kesalahan dari Jaka tarub, Nawang wulan menjelaskan bahwa lumbung padi yang selama ini tidak pernah habis itu karena kesaktiannya, selama ia memasak hanya dua batang padi saja yang ia masak, Nawang wulan pun masuk ke dapur dan pada saat itu juga Nawang wulan menemukan selendangnya yang berada di antara padi-padi yang ada di lumbung, dan akhirnya Nawang wulan memutuskan untuk kembali ke khayangan.
Jaka tarub memohon kepada Nawang wulan agar tidak kembali ke khayangan bukan untuk Jaka tarub tetapi untuk anaknya Nawangsih yang masih kecil dan masih membutuhkan Nawang wulan, dan Nawang wulan berkata bahwa ia akan sering mengunjungi anaknya tetapi ketika bulan purnama, akhirnya Nawang wulan pun kembali ke khayangan, Jaka tarub merasa menyesal karena sudah kehilangan orang yang ia kasihi. Begitulah awal cerita laki-laki yang bermimpi takut kehilangan anaknya yang ternyata laki-laki itu ialah Jaka tarub.
Pentas kedua yaitu tentang balada Sumarah, cerita Balada Sumarah menceritakan seorang perempuan yang di kucilkan, di rendahkan dan di caci maki oleh orang-orang karena masalalu ayahnya seorang PKI, setiap hari ia selalu mendapat cemoohan dari tetangganya yang berada di desa, lalu ia merasa tidak tahan hidup dalam bayang-bayangan ayahnya, lalu ia memutuskan pindah merantau ke arab menjadi seorang TKW. Merasa ingin hidup tentram, nyaman di negeri orang, malah ia jauh lebih menderita di arab, pekerjaanya menjadi seorang budak dari orang arab, setiap hari mencuci, menyetrika tapi ia tak mendapatkan apa-apa.
Merasa bekerja dengan baik tetapi ia tidak mendapat bayaran sepeserpun malah ia di siksa, dan di perlakukan semena-mena oleh majikannya, tak hanya berhenti di situ saja Sumarah juga di perlakukan tak baik, ia di perkosa oleh majikannya sendiri, ia di perkosa dengan keji oleh majikannya. Sumarah pun tak terima dengan kelakuan majikannya, ia merasa dendam dan ia memberanikan dirinya untuk memberikan pelajaran ke majikannya bahwa jangan semena-mena kepada orang kecil yang sedang merantau di negeri orang. Akhirnya ia membunuh majikannya, akibat dari ulahnya ia di hukum mati di negara asal ia bekerja.
Pentas Jaka tarub dan Balada Sumarah sangat menarik untuk di tonton, dan banyak sekali nilai-nilai di dalamnya yang bisa kita ambil,misalnya pada cerita Jaka tarub hal yang bisa kita ambil yaitu jangan mengambil barang yang bukan milik kita sendiri, karena itu akan mencelakai atau merugikan bagi diri kita sendiri di kemudian hari, dan nilai dari Balada Sumarah yang bisa kita ambil adalah jangan menilai seseorang hanya dari masalalunya.
Menanggapi Opini
Menunggu Tito Mereformasi Polri
Opini yang di sampaikan Husnun N Djuraid tentang Menunggu Tito Mereformasi Polri sangat menarik, dan saya sependapat dengan Husnun N Djuraid, bahwa keputusan Presiden Jokowi melantik Komjen Tito sebagai Kepala polri menggantikan Jendral Badrodin Haiti itu memang sangat tepat, karena sosok komjen Tito di rasa dapat merubah program reformasi internal polri.
Sosok Komjen Tito juga cocok untuk memimpin polri saat ini, karena berdasarkan pengalamannya saat menduduki sejumlah jabatan penting sangat baik, dan kisah sukses dan prestasi yang cukup baik membuatnya bisa di terima dengan baik oleh pihak eksternal. Namun banyak tantangan yang harus di hadapi oleh Komjen Tito antara lain ia di lantik oleh Pesiden Jokowi tidak berdasarkan senioritas dan kepangkatan, hal itu membuat Komjen Tito merasa tidak enak kepada kalangan seniornya, karena Komjen Tito menjabat sebagai kepala polri di usia yang relatif muda.
Usia muda Komjen Tito tidak memungkinkan melaksanakan program jangka panjang, tetapi kalau melihat dari segi usianya sekarang, dia akan pension pada tahun 2022, itu artinya sampai berakhirnya masa jabatan pertama Presiden Jokowi, dan kalau Presiden Jokowi terpilih pada periode kedua Komjen Tito masih aktif. Dengan masa jabatan panjang ini sebenarnya tidak ada alasan program reformasi polri tidak terealisasi.
Tantangan yang lain yang harus di hadapi oleh Komjen Tito yaitu dalam mewujudkan programnya, melayani masyarakat, masalah pelayanan kepada masyarakat inilah yang sebenarnya harus menjadi perhatian utama para pemimpin polri, apalagi masyarakat mempunyai ekspetasi yang tinggi terhadap Komjen Tito, tetapi Komjen Tito sudah memiliki cara tersendiri dalam mereformasi polri agar mampu memenuhi harapan masyarakat.
Jadi kesimpulannya Komjen Tito dan anggota polri yang lain harus lebih meningkatkan program-program yang akan di capai, agar masyarakat tidak kecewa terhadap program kerja para anggota polri.
Langganan:
Komentar (Atom)